-->

Rabu, 04 Maret 2015

Flakes of Tears (part 1)

“Maaf, sudah waktunya kita tutup. Anda bisa kembali esok hari.” Gadis mungil dengan sorot mata yang tajam seolah mengusir Dias yang sudah hampir berjam-jam duduk di sebuah meja dengan lampu temaram di depan jendela menghabiskan tiga gelas kopi hitam tanpa teman. 
"Oh .. Baiklah” Dias bangkit dari tempat duduk sambil merapikan sisi belakang roknya dan beranjak dengan tatapan mata yang nanar. Melangkah dengan gontai menuju halte.
Tak beberapa lama Dias menanti, gadis pelayan cafe itu datang menghampirinya. Ikut duduk tepat di sampingnya tanpa berujar sepatah kata pun. Dias mungkin tak menyadari keberadaannya, ia masih menikmati lamunannya yang tengah melambung tinggi ke udara.
__
 Sore ini Dias terlalu cepat mengunjungi cafe itu. Cafe bernama cafe-in, tempat dimana Dias menghabiskan malam-malamnya yang gelap pekat. Tirai besinya masih tertutup rapat. Dias berjalan dalam diam, menuju halte yang bejarak hampir dua meter disebrang cafe, lalu duduk di halte seraya menatap cafe yang masih belum terbuka.
Dihalte yang sama sang gadis pelayan cafe turun dari sebuah bus, menjinjing kantong belanjaan yang cukup penuh dan besar dengan kedua tangannya. Dengan terengah-engah ia sampai di depan cafe. Membuka tirai besi yang tadi terkunci rapat. Selang persekian detik setelah gadis pelayan berhasil membukanya Dias nyelonong masuk tanpa babibu. Mengambil langkah menuju tempat duduk favoritnya.
“Kopi hitamnya satu mbak!” Dias bergumam tanpa menoleh ke arah si gadis pelayan.
“Mohon ditunggu ya!”
Gadis pelayan belum sempat memindahkan kantung besar yang ia letakkan tepat disamping pintu masuk dan belum sempat bersih-bersih ketika kedatangan seorang pelanggan.
Selang beberapa menit gadis pelayan datang membawa secangkir kopi dan sepotong sandwich lalu meletakkannya ke meja Dias.
“Anu .. Saya tidak memesan ini!” Dias menunjuk dua potong sandwich berukuran sedang dengan isian lengkap.
“Kau akan terserang maag jika tak makan dari semalam dan mengkonsumsi kopi berlebihan. Dan itu sandwich spesial untuk pelanggan pertama.” Gadis pelayan menjawab dengan ramah dan mengedipkan sebelah matanya dengan centil.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku bahkan tahu kau sudah tidak tidur tiga hari kebelakang!”
“Kau paranormal?”
“Aku ibu peri.”
Gadis pelayan menjawabnya dengan lengkung senyum menghiasi sudut bibirnya. Lalu berlalu meninggalkan Dias yang masih tercekat.
Mau tak mau Dias mengunyah sandwich yang telah diberikan. Ucapan gadis pelayan tentang maag ternyata sedikit membuat Dias khawatir, ditambah ia bilang bahwa ini sandwich spesial.
Sinar mentari yang menyilaukan sudah tak tampak digantikan cahaya rembulan yang berkilau. Dias masih ditempat yang sama, menatap nanar keluar jendela. Dari kejauhan gadis pelayan memperhatikan tingkahnya yang selalu sama tiap harinya. Namun tetap fokus kepekerjaannya, melayani para tamu.
Hal yang berbeda hari ini adalah Dias tak lagi menghabiskan sepnajang malam untuk melamun, ia mulai membuka laptopnya dan mengerjakan tugas kuliahnya yang hampir deadline. Diseberangnya gadis pelayan tersenyum menatapnya.
 Hari semakin gelap ketika Dias menanti gadis pelayan mengusirnya. Ia ingin berterima kasih untuk sandwich lezat tadi sore. Ia menyapu pandang kesetiap sisi ruangan, terlihat gadis pelayan sedang mengelap beberapa meja. Beberapa saat Dias sempat memperhatikannya dalam dalam. Sejenak Dias terpaku melihatnya. Ia terlihat sangat imut mengenakan seragam cafe itu. Rok pendek berenda dan pita besar dikerah membuatnya terlihat seperti gadis-gadis lolli di dalam manga. Namun sorot matanya yang tajam dan dingin membuatnya tetep terlihat menakutkan.
“Maaf ...... “
“Tak perlu kata maaf untuk mengusirku.”
Dias memotong kalimat yang belum sempat gadis pelayan selesaikan.
“Lalu?”
“Menunggumu. Rute pulang kita sama bukan?”
Gadis pelayan mengangguk tanpa ragu. Ia berlari ke toilet dan mengganti pakaiannya. Beberapa menit berlalu ketika gadis yang sama keluar dengan tampilanan yang sangat berbeda. Gadis loli yang tadinya membuat Dias terpesona sirna sudah. Ia telah menjelma menjadi gadis tomboy yang terlihat hiperaktif.
“Aku tunggu di halte ya!” Dias berbisik pelan di telinga kanannya.
Gadis pelayan mengangguk dan membantu rekan kerjanya menutup beberapa jendela. Dias meninggalkan tempat ia berpijak, melangkah membuka pintu dan sejenak sudah tak terlihat. Tak beberapa lama gadis pelayan terlihat berlari menuju halte dengan raut wajah yang ceria.
“Sedang bahagia ibu peri?” tanya Dias ketika gadis pelayan tiba.
“Seperti yang sedang kau lihat gadis pemurung.”
Dias hanya tesenyum tipis.
“Sudah jangan murung terus. Tak baik bagi otot-otot wajahmu.”
“Hehe”. Tawa tertahan dari bibir mungil Dias.
“Berat memang kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Tapi bukankah semua yang hidup akan kembali?”
“Hah?”
“Aku juga pernah mengalaminya. Tapi kau tak kehilangan orang-orang yang peduli di sekitarmu. Aku siap menghapus duka mu jika kau bersedia. Bahuku memang hanya berisi tulang namun cukup nyaman untuk bersandar.” ujarnya santai sambil mengayunkan kedua kakinya yang menggantung.
“Kau sedang berlagak sok pahlawan gadis pelayan??”
Dias nyaris meneteskan buliran air mata, namun ia menahannya. Ada sesuatu bergejolak dihatinya, ia merasakan seberkas kehangatan menyusup ke setiap pori-pori kulitnya. Menjalar melalui pembuluh darah dan bermuara ke jantungnya.
__
Dias melirik jam tangannya dengan sedikit kesal. Waktu terasa berjalan sangat lamban. Ia harus menunggu sekitar 1 jam lebih sebelum cafe-in buka. Dias akhirnya memutuskan menyebrang jalan dan menantinya dengan duduk di halte. Tak ada tempat lain untuk duduk di sekitar cafe itu selain halte ini.
Dari kejauhan Dias melihat seorang pria mendekati cafe-in, membuka tirai besi cafe itu, Dias berjalan setengah berlari menuju cafe-in. Ketika tiba tepat di depan pria itu Dias mengamati wajahnya dengan seksama, Pria berpostur tinggi dengan rambut terjuntai hingga bahunya. Ia tak mengenali sosok pria itu walau tak terhitung jumlahnya ia mengunjungi cafe-in.
“Permisi, kok yang ngebuka cafenya bukan gadis pelayan?” Dias sedikit gugup memberikan pertanyaan itu tanpa lebih dahulu basa-basi dengannya.
“Gadis pelayan?”
“Gadis mungil dengan poni dan rambut sebahu, bermata tajam dengan hidung mancung!”
“Kayla kah?”
“Anu ... saya belum tahu namanya! Maaf”
“Kamu pasti gadis murung itu bukan?”
Dias tersenyum kecut mendengarnya. Diam dan tak berujar sepatah katapun.
“Kay sedang cuti, ia sedang mempersiapkan sidangnya besok!”
“Sidang?”
“Bagaimana kalau kita ngobrol di dalam? Sembari saya membuatkanmu segelas milkshake.”
Tawaran pria itu membuat Dias mengangguk tanpa perlawanan. Ia kemudian menuju spot favoritnya, pria tadi meninggalkannya menuju dapur. Membuatkan segelas milkshake seperti yang ia janjikan.
“Ini milkshake beserta sandwich titipan neng Kayla”  
Pria itu menyuguhkannya dengan senyum tulus. Jantung Dias berdegup kencang menatap senyum itu. Lalu membalas senyum itu dengan sangat kikuk. Kehangatan pria itu membanjiri dadanya. Membuatnya sedikit tesesak dan sulit mengatur nafas.
“Mengenai Kayla, ia sedang mempersiapkan sidangnya besok.”
“Sidang?? Sidang sripsi kah? Aku pikir ia baru lulus SMA!” ujar Dias polos.
“Yap dan ia memang seumuran anak lulus SMA pada umumnya.”
Dias tercekat mendengarnya. Mulutnya menganga.
“Kebetulan Kayla tinggal di sebelah kost ku, jika kau ingin bertemu dengannya aku bisa memberikan alamatnya untukmu!”
“Oh tidak tidak, aku baru semalam mengenalnya. Ia anak yang menyenangkan, walau umur kami ternyata terpaut 3 tahun. Ternyata aku menerima nasehat dari bocah semalam” ujar Dias dengan dahi berkernyit.
“Hehe anak itu kalau sudah bicara memang terlihat lebih tua dari umurnya.”
“Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku Dias” Dias mengulurkan tangannya untuk berjabat.
“Leo, aku pun remaja seusia Kayla.” Leo membalasnya dengan jabatan hangat.
“Yang benar saja? Dari parasmu kau terlihat seperti bapak-bapak beranak tiga!” timpal Dias tak percaya.
“Hoi hoi aku belum teramat tua untuk kau panggil bapak!” Balas Leo tak terima.
“Aku tak yakin kau seumuran dengan gadis pelayan itu!”
“Tak sopan membicarakan umur dengan orang yang baru kau kenal! Panggil saja aku kakak atau abang. Usiaku yang jelas lebih banyak dari mu!”
“Yosh .. Terimakasih ya infonya, senang berkenalan denganmu om!”
“heeeeeeiiii!” Leo melirik dengan tatapan ingin membunuh.
Dias masa bodoh dan menyeruput milkshakenya.

1 komentar: